Selasa, 25 November 2014

Cyber Religion : Beragama Secara Online






      Pada masa trend seperti saat sekarang ini, agama menjadi sangat praktis karena seluruh pertanyaan-pertanyaan spiritual dapat ditemukan di dunia virtual secara cepat dan beragam. Entah itu melalui surat elektronik, grup diskusi, membaca laman di situs internet atau bisa juga mengunduh file. Kita ketahui bersama, bahwa sebenarnya cyber religion merupakan aktivitas keagamaan yang dilakukan secara online. seperti yang dikutip dari (http://news.detik.com/read/2008/07/30/114044/980106/471/cyber-religion?n...), bahwa pada kenyataa agama menjadi sangat praktis karena seluruh pertanyaan-pertanyaan spiritual dapat ditemukan di dunia siber seketika itu juga. Entah itu melalui surat elektronik, grup diskusi, membaca laman di situs internet atau bisa juga mengunduh file. Di dunia siber siapa pun bisa mengabaikan sosok fisik guru spiritual (ulama, pendeta, pastur, biksu, dan sebagainya) yang selama ini dianggap ahli dan memiliki kapabilitas dalam mengajarkan segala sesuatunya mengenai agama, dan menggantikannya dengan mengakses internet. Brenda Brasher’s (Give Me That Online Religion, 2001) mendefinisikan cyber - religion sebagai kehadiran institusi dan aktivitas keagamaan di dunia siber. Sementara Lorne L Dawson (Anti-Modernism, Modernism, and Postmodernism, 2000) mengartikan sebagai organisasi atau grup keagamaan yang eksistensinya hanya berada di dunia siber. Sementara bagi Morten T Hojsgaard (Religion and Cyberspace, 2005) menyebutkan bahwa ada tiga perbedaan konsep mengenai agama di dunia online, yaitu adanya komunikasi virtual yang menggantikan komunikasi bersifat nyata (Mediation), tidak perlunya institusi keagamaan yang bersifat komplit (Organization), dan refleksi dari kultur siber yang menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (Content). Morten T Hojsgaard (Religion and Cyberspace, 2005) menyebutkan bahwa ada tiga perbedaan konsep mengenai agama di dunia online, yaitu adanya komunikasi virtual yang menggantikan komunikasi bersifat nyata (Mediation), tidak perlunya institusi keagamaan yang bersifat komplit (Organization), dan refleksi dari kultur siber yang menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (Content).
      Berdasarkan dari penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa Cyber Religion pada dasarnya sebagai sarana yang dapat menembus ruang dan waktu, karena aktivitas virtual dapat menggantikan aktivitas konvensional yang mengharuskan seseorang untuk bertemu secara face to face, maka dengan ciber religion ini membuat berbagai macam aktivitas dapat dilakukan secara cepat. Secara online, pengguna internet dapat mengakses informasi mengenai ritual keagamaan dan tata cara melakukannya. Sehingga pengguna internet merupakan bagian dari pemeluk agama dunia yang melakukan kredo kegamaan yang sama. Namun dibalik kemudahan tersebut, tentu saja sebagai masyarakat tidak ada salahnya untuk berhati-hati, mengingat di dunia virtual dapat kita temui berbagai portal khusunya dalam konteks religion, jangan sampai terjerumus terhadap pemahaman atau aliran yang dapat menyesatkan. Kita perlu mawas diri.

*Ilustrasi : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkXUdQqg_AvIgvRAhxU3S9cvUGtpAkTptEJwv584Q4Uu4tAX8YN8VqjsHQpi0GlVK4rkyWE_HEf06ueHNlcAXMKNZMjwXhjP8Q_hxs3iEUn6NYqpcJxAgnOrV9NhvC7VH98bL69iCyhVs/s1600/langkah-sederhana-bisnis-online.jpg

The Home Library : Perlu nggak Sich ?


      
      Segala hal kecil yang menjadi karakter seseorang, umumnya dimulai dari rumah. Jika ditelusuri, segala kebiasaan aneh, gokil, lebay/alay, atau ajaib sekalipun umumnya berakar dari rumah, begitu juga dengan kebiasaan atau minat akan membaca pada tiap manusia. Kegemaran membaca sendiri sebagai bagian dari proses menambah intelektualitas dan sudah terbukti kebenarannya. Berkaca dari pengalaman berbagai tokoh ahli maupun cendekiawan yang terkenal akan prestasi dan kemampuan akademik mereka, sebagian besar pengetahuan yang mereka dapatkan dari buku yang mereka koleksi atau sumber bacaan lain yang telah mereka baca.
     Sebagai makhluk tuhan yang berkecimpung dalam dunia akademik, tentu memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, termasuk kecintaan terhadap buku sebagai wadah khasanah pemikiran anak bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya. Tentu saja dari berbagai tuntutan-tuntutan akademik tersebut yang mengharuskannya untuk memiliki berbagai koleksi buku sebagai bahan referensi kuliah. Wajar saja jika Cicero, seorang orator dan penulis prosa terkenal di abad 43 SM. Mengemukakan bahwa “A room without books is like a body without a soul”. Rumah seseorang yang gemar membaca buku setidaknya pasti memiliki suatu tempat yang dikhususkan untuk menyimpan buku, entah itu lemari, meja belajar, meja kecil atau bahkan ruangan yang memang diperuntuhkan sebagai perpustakaan rumah alias home library.
Sebagain besar dari kita sendiri pun bertanya-tanya, home library itu penting tidak dan mengapa harus disertakan dalam hidup kita, menurut Jatinegara (2009:8) bahwa beberapa alasan perlunya memiliki home library  adalah sebagai bearikut :

1.    sebagai ruang penyimpanan (storage) agar koleksi tersebut dapat tertata rapi
2.    memperindah ruangan dari sisi interior
3.    menumbuhkan minat baca bagi penghuni/pemiliknya
4.    sumber referensi bagi keluarga
5.    menjadi tempat alternatif untuk menunjang pekerjaan
6.    sebagai tempat/pusat informasi jangka panjang
7.    sebagai media pembelajaran yang praktis

    Oleh sebab itu, menciptakan home library, tidak hanya membuat koleksi tersimpan dengan baik dan rapi, tapi lebih dari itu dapat meningkatkan minat baca. Begitu juga dengan adanya home library, diharapkan dapat membuat kita semakin menghargai buku dan menunaikan hak-haknya, serta keberadaanya (home library ) dapat memperindah ruangan (rumah) dengan cara yang elegan dan masih banyak lagi kelebihan yang lainnya.

*Sumber Inspirasi : Majalah " Ragam Inspirasi Perpustakaan Rumah".
*Tulisan pernah dimuat di : http://www.alusyogya.org/2012/04/home-library-perlu-nggak-sich.html
*ilustrasi  : http://cdn.freshome.com/wp-content/uploads/2012/07/library_home.jpg

Belajar Merawat Si Buku

      



      Setiap manusia, pasti mengenal atau memiliki yang namanya cinta, [Cieee…^_^]. Untuk urusan cinta, biasanya manusia siap melakukan apa saja atau siap menerima konsekwensi apapun untuk hal-hal/sesuatu yang dicintainya [asseek]. Disini saya mencoba mengajak para pembaca (yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng ini) untuk menyamakan persepsi terlebih dahulu, yaitu pembahasan ini mengarah kepada cinta yang terkait dengan koleksi buku. Bukan persoalan cinta kepada pasangan atau lawan jenis [he.he.he, sorry bray..].

      Bagi kita-kita nih, pasti mengenal dan paling tidak memiliki koleksi buku yang disimpan di tempat tinggal masing-masing, sedikit banyaknya bukan masalah. Nah, mengoleksi atau memiliki buku merupakan salah satu bukti bahwa kita punya perhatian dan ketertarikan (baca: cinta) kepada buku-buku yang dikoleksi tersebut, karena kenapa? Ya… buktinya masih disimpan, kalo gak suka atau gak diperhatikan pastinya dia (buku) sudah “minggat” dari rumah [entah dijual atau digimanaain gitu, he.he.he]. Ok, kita kembali ke masalah buku tadi, bukan ke rumah. Bagi kalangan para pecinta buku misal dosen, peneliti, ilmuan, mahasiswa tentunya, bisa dipastikan bahwa kalangan seperti ini akan siap melakukan berbagai macam cara agar koleksi buku-buku mereka tetap dalam kondisi baik [ehemm..,cinta sejati nih sob]. Perlu diketahui, bahwa seperti halnya manusia buku juga punya musuh [musuh abadi po piye, he.he], tentu saja musuh yang dimaksud disini adalah musuh alamiah seperti debu, suhu, rayap dan sinar matahari.

     Agar buku yang kita koleksi dapat terhindar dari berbagai musuh tersebut di atas, maka langkah apa saja sih yang perlu dilakukan atau dalam bahasa Jawa ”tur, Aku kudu piye dab”. Nah agar buku dapat terhindar dari debu, beberapa cara dapat dilakukan, antara lain :

1. Bersihkan buku dengan kemoceng, jagan lupa membersihkan bagian punggung buku karena bagian inilah yang tampak jelas dari rak buku.

2. Bersihkan buku dengan lap kering, jika debu yang menempel cukup tebal, bias membasahi sedikit kain lap tersebut lalu dilap secar perlahan.

3. Membuka-buka buku per-halaman

4. Lakukan penyedotan menggunakan vaccum cleaner.

Gampang kan caranya, nah biar gak kenapa-napa pas lagi memberantas si debu, ada tipsnya nih, [kasih tahu nggak ya...]. cekidot.

*Pertama, jika alergi terhadap debu, maka sebaiknya menggunakan perlengkapan khusus yang dapat menghindarkan anda dari resiko terkena debu [bukan melarikan diri loh ya..]. Misalnya menggunakan sarung tangan, masker, kaca mata plastic bening [jangan yang lensa hitam, he.he], slayer untuk menutupi kepala atau memakai topi [biar ente kelihatan keren, he.he].

*Kedua, ketika akan menyedot debu, sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari, karena udara dari luar ruangan yang dihirup masih relative segar, sedangkan jika siang atau sore hari tingkat kejernohannya sudah berkurang atau jenuh [bukan bosan, he.he] karena sudah terkontaminasi dengan polusi.

*Ketiga, pilihlah alat penyedot debu yang pas digenggam dan tidak terlalu berat [nanti repot banget bray].

*Keempat, biasakan untuk langsung mencuci tangan atau langsung mandi agar badan bebas dari sisa-sisa debu yang menempel.

*Kelima, bias dipastikan semoa koleksi buku-buku merasa bahagia dan anda pun legaa..

Nah, gampangkan caranya, semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan pencerahan.

-Sumber inspirasi (tips) : Majalah Seri Rumah Ide : “Home Library”, Edisi 1/III. Gramedia. Hlm.34-35. Tahun 2007.
-Sumber gambar : http://cdn.kaskus.com/images/2014/03/24/6118503_20140324112552.jpg
  

Senin, 24 November 2014

Fakta Sejarah tentang Media Tulis: Regenerasi catatan memori pengetahuan manusia dari masa ke masa

    
    Jika mendengan istilah atau ungkapan tentang tulisan, maka hal pertama yang muncul di benak kita adalah media tulis tersebut, misalnya wujud medianya berupa kertas yang dikemas dalam bentuk koran, majalah, buku, dsb hingga format digital/elektronik. Tentu saja dari berbagai media tulisan tersebut tak lepas dari berbagai macam perubahan format atau bentuk medianya seiring perkembangan zaman. Berikut ini penulis mencoba menguraikan jenis media tulis manusia sepanjang sejarah.

1. Papyrus (4.000 SM)
Kertas papyrus terbuat dari tanaman air daun alang-alang (Cyperus Papyrus). Bentuknya merupakan gulungan, dan bentuk awal buku atau buku kuno ini masih dipakai hingga tahun 300 Masehi. Tulisan hierogtif yang diperkenalkan oleh bangsa Mesir Kuno dengan bentuk hurufnya berupa gambar-gambar atau tulisan pada batu dan kertas papyrus. Selain itu, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus tersebut erkadang hingga puluhan meter, terbukti di British Museum di London terdapat naskah berbahan papyrus yang panjang gulungannya mencapai 40,5 Meter.

2. Perkamen/Pergamenum (654-690 Masehi)
Orang-orang di Timur Tengah menggunakan kertas kulit dari domba. Tes karbon-14 menunjukkan beberapa perkamen berasal dari tahun 645-690 sesudah masehi, perkamen lebih kuat inilah bentuk awal dari dari buku yang berjilid.

3. Codex
Pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kayu yang keras disebut codex. Codex merupakan bahasa Latin untuk “buku”, merupakan nenek moyang buku modern. Codex terdiri dari lembaran papyrus dan perkamen yang dibundel, ditumpuk dan dijahit.

4. Kertas (105 Masehi)
Pada tahun 105 Masehi, Ts’ai Lun, seorang Cina di Tiongkok telah menciptakan kertas dari bahan serat yang disebut “hennep”. Penemuan tersebut mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan.

5. Buku
Semua penemuan yang menakjubkan tersebut telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah untuk dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita mendapati berbagai macam buku terbit silih berganti dengan penampilan yang semakin menarik.

6. Buku Elektronik
Buku elektronik atau e-book merupakan buku digital versi elektronik dari buku, berisikan informasi digital yang juga berwujud teks atau gambar.

        Sebagai tindak lanjut dari penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang sangat signifikan dari dunia perbukuan. Penemu mesin cetak pertama bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg, merupakan seorang berkebangsaan Jerman. Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden. Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dan ditulis tangan. Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu juga dikenal buku kuno yang ditulis di atas daun lontar, yang kemudian dijilid membentuk sebuah buku. Di era modern seperti sekarang ini, teknik cetak yang lebih sempurna dengan adanya mesin cetak offset yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
Melihat adanya berbagai perkembangan tersebut, maka Sungguh sangat ironi jika kita yang hidup di zaman serba modern ini masih malas membaca, semuanya serba mudah, dan serba mungkin."membaca itu asyik".


Sumber Inspirasi : EYD Magz #1 Mei 2013, Hlm. 18-19.
Sumber gambar : http://fc01.deviantart.net/fs71/i/2013/327/6/9/papyrus___personal_use_on...

Sabtu, 22 November 2014

Jagongan Bareng Alumni : Memaknai Kesuksesan dalam Keberagaman

      
    
       Acara yang diselenggarakan oleh Pengurus IKAIPI SUKA pada hari sabtu, tanggal 01 November 2014 di Taman Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara sarasehan atau trend-nya lebih dikenal dengan istilah  Jagongan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Mengawali acara dimulai dengan pembacaan Qalam Ilahi, kemudian disusul dengan menyanyikan lagu kebangsaan (Indonesia Raya) dan dilanjutkan dengan sambutan, baik dari ketua panitia (Ardian Kusuma, SIP) hingga ketua umum IKAIPI SUKA (Supriyadi, SIP). Dari isi sambutan dari kedua utusan tersebut dapat disimpulkan bahwa acara jagongan yang dengan tema yang diusung “Memai Kesuksesan dalam Keberagaman” dengan menghadirkan beberapa alumni (narasumber) yang memiliki berbagai bakat yang patut diapresiasi dan tentu saja mempunyai success story dibidang profesi masing-masing, seperti alumni yang berkarir dibidang yang sesuai dengan pendidikannya semasa studi (ilmu perpustakaan), ada juga alumni ilmu perpustakaan yang kemudian bergelut dibidang usaha supplier pada sektor peternakan, selain itu ada juga yang berprofesi selain jadi pustakawan, menjadi guru sekaligus menjadi designer dan kaligrafher. Selain itu ada juga yang menekuni bidang penyedia jasa informasi di internet yang atas kiprahnya tersebut banyak membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi, (khususnya mahasiswa dalam memenuhi tugas kuliah mereka), baik lintas nasional hingga mancanegara. Pada acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan yang juga bertindak sebagai salah satu narasumber. Tentu saja dari latar belakang pendidikan yang sama dengan bidang profesi yang berbeda merupakan sebuah keunikan tersendiri dan harapannya nantinya mampu memberikan pandangan serta wawasan yang bervariasi kepada generasi penerus (mahasiswa) agar nantinya ketika menyelesaikan studianya mampu memilih dan meniti karir yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan minatnya.
         Acara jagongan ini diawali dengan pembacaan CV (biodadata ringkas) dari para narasumber, dengan dipandu oleh Moderator (Mukhlis,SIP), setalah itu dilanjutkan dengan pemaparan success story dari narasumber secara berurutan yang dimulai dari Bapak Hadi Pranoto, SIP (Pustakawan BPAD Yogyakarta). Oleh Bapak Hadi, dalam pemaparannya mengutarakan bahwa dalam berfrofesi sebagai pustakawan, kita dituntut untuk senantiasa melakukan perbaharuan keilmuan, mengingat perkembangan zaman, khususnya perkembangan teknologi informasi, sehingga tuntutan untuk terus belajar itulah tidak pernah berhenti, meskipun sudah masuk dalam ranah dunia kerja. Selain itu, oleh Bapak Hadi juga mengajak mahasiswa berdialog terkait dengan tujuan mereka (mahasiswa) kuliah, diantar pertanyaan tersebut adalah : mencari ilmu, mencari nilai, mencari teman atau mencari ijazah, dst. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mahasiswa, banyak diantaranya yang tidak mamampu menjawab, mengingat pertanyaan tersebut menurut mereka semuanya merupakan kebutuhan. Pada akhir pemaparan tersebut, diambil benang merahnya bahwa dalam menuntut ilmu pada hakikatnya bukan semata-mata untuk mengejar nilai atau ijazah, namun sebenarnya terletak pada bagaimana kita betul-betul mencari jati keilmuan dalam artian bahwa kecendrungan atau ketertarikan kita dari berbagai mata kuliah yang digeluti selama kuliah yang paling dikuasai atau diminati, sehingga nantinya ketika lulus, kita sudah memiliki kompetensi atau spesialisasi pada satu bidang tertentu, meskipun yang lainnya tidak boleh diabaikan, karena semuanya memiliki keterkaitan dan saling mendukung satu sama lain.
      Pemaparan yang kedua, disampaikan oleh Muh. Nursolikin, A.Md. beliau berprofesi selain menjadi pustakawan, menjadi guru sekaligus menjadi designer dan kaligrafher. Dalam pemaparaannya Bapak Solikin menyampaikan yang intinya bahwa dalam hal kebaikan, mencoba itu lebih baik daripada tidak pernah, takut untuk mencoba dapat melahirkan rasa penasaran yang berkepanjangan hingga berujung pada penyesalan. Memang hobbi beliau sewaktu kuliah adalah mengecat tembok, pernah juga bekerja sebagai pembantu yang mengecat rumah-rumah warga, sehingga terpikirkan oleh beliau bahwa ada baiknya belajar berkreasi, maka dimulailah melakukan kaligrafhi dan desain, hingga saat ini, beliau mampu membuktikannya, orderan kaligrafhi mulai berdatangan, selain itu beliau juga membuka kursus kaligrafhi dan desain. Pesan moral dari pemaparan beliau adalah tidak ada salahnya mencari pekerjaan tambahan kalau pekerjaan tersebut merupakan sebuah kegemaran bagi kita, dan bermanfat bagi orang lain, meski hal tersebut tidak diperoleh dari bangku kuliah dan itulah yang mampu membedakan antara kita dengan yang lainnya.
      Pemaparan yang ketiga, disampaikan oleh Bapak Ari Suseno, dalam pemaparannya, beliau mencaritakan kisahnya sewaktu kecil yang sedikit memiliki kegemaran berbeda dengan anak-anak seusianya, beliau lebih senang mendengarkan radiao saat mengembala kambing, daripada bermail laying-layang atau kelereng. Dari kegemaran tersebut beliau kemudian berfikir bahwa menjadi seorang penyiar radio atau wartawan sepertinya menarik, bisa kemana-mana meliput berita kemudian menyiarkannya lewat radio. Dari kegemaran dimasa kecilnya itulah yang mengatarkannya hingga saat ini menjadi seorang penyedia jasa informasi di internet. Dari hobbi beliau membaca, menulis/mengetik hingga ng-blog. Berbagai konten informasi yang disajikan dalam website beliau, dari pengakuan mahasiswa yang hadir pada saat itu, website beliau merupakan website yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa dalam mencari materi untuk pembuatan tugas kuliah hingga mencari judul skripsi. Menjadi penyedia informasi merupakan pekerjaan yang baik, selain membantu ada proses pembelajaran yang lebih didalamnya, karena bagaimana kemampuan mencari dan mengolah informasi hingga bagaimana informasi tersebut dapat diperoleh orang yang membutuhkannya.
      Pemaparan yang keempat, disampaikan oleh Bapak Sugeng Kurniawan, SIP. dalam pemaparannya, beliau menceritakan kisah hidupnya ketika masih menjadi mahasiswa yang memang senang menggeluti dunia bisnis, mulai dari jualan pulsa, tissue dan sebaganya. Beliau juga menceritakan bahwa untuk langkah awal dalam membangun jiwa pembisnis sebenarnya dimulai dari cara menawarkan produk kepada teman sendiri, itu merupakan sebuah proses. Kalau mau dibilang melenceng dari ilmu yang didapat di bangku kuliah, tidak serta merta bisa dikatakan demikian, kata beliau. Lebih lanjut dijelaskan bahwa masih ada yang bisa digunakan, missal pengalaman ketika melakukan presentasi di kelas, menjalani proses birokrasi kampus, negosiasi dengan teman atau dosen dan lain sebagainya itu hal yang paling utama yang digunakan dalam dunia bisnis, kalau dari segi kelilmuan memang iya, tapi dari segi teknis masih ada yang bisa digunakan. Dengan begitu beliau sadar bahwa menggeluti usaha diluar jalur keilmuan saja masih ada beberapa hal yang bisa digunakan, apalagi kalo kita menggeluti sebuah profesi yang betul-betul sesuai dengan keilmuan, maka alangkah ruginya jika tidak dimaksimalkan ilmu itu. Sehingga akhir pemaparan belaiu berpesan bahwa berkarir di luar disiplin kelimuan bukanlah hal yang mustahil, yang penting ada kemauan, kemampuan dan kesanggupan untuk melakukannya, maka lakukanlah karena kesempatan itu terjadi hanya sekali seperti halnya dengan hidup.
       Pemaparan yang kelima, disampaikan oleh Ibu Sri Rohyanti Zulaikha. dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang “IBU” (Kaprodi IP), secara pribadi merasa berbangga hati melihat prospek alumni yang berkarir di berbagai bidang, tentu saja kata beliau bahwa menghadirkan alumni-alumni (nara sumber) seperti ini memang bisa dikatakan sulit, mengingat keragaman profesi yang ditekuni, tetapi sebenarnya ini merupakan sebuah bukti nyata bahwa alumni IP mampu bersaing di dunia kerja serta mampu berproses untuk menemukan jati profesi yang betul-betul sesuai dengan bakat dan skill masing-masing, sehingga dalam berproses mampu menghasilkan sebuah kesuksesan. Dari berbagai pemaparan dari narasumber-narasumber sebelumnya tentu saja mampu memberikan masukan/feed back kepada Prodi IP bahwa berbagai hal yang sebaiknya perlu dilakukan sebagai bentuk pembekalan kepada para mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja dan harapannya bisa dimasukkan ke dalam kurukulim. Di akhir pemaparan beliau mengemukakan bahwa memang ketika harapan terpenuhi, maka sudah bias dikatakan sukses.
Setelah pemaparan singkat dari masing-masing narasumber, maka dilanjutkan dengan diskusi dengan para peserta. Berbagai pertanyaan pun mulai bermunculan dari pihak peserta, seperti seperti program pra-lulus, kiat-kiat dalam berwira usaha, PNS sebuah solusi kah? Dan lain sebagainya. Disela-sela diskusi acara diselingi dengan Penandatangana MoU, antara Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dihadiri langsung oleh kepala perpustakaan (M.Solihin Arianto, S.Ag., SIP., MLIS) dengan IKAIPI SUKA dalam hal ini oleh Ketua Umum (Supriyadi, SIP). Inti dari kerjasama tersebut adalah bagi alumni yang telah terdaftar (memiliki kartu anggota), maka berhak mendapatkan pelayanan serta memperoleh hak untuk memanfaatkan segala fasilitas di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagaimana anggota perpustakaan pada umumnya, kecuali peminjaman koleksi. Perjanjian tersebut berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang. Menurut kepala perpustakaan bahwa beliau sangat mengapresiasi kerjasama tersebut, karena hingga saat ini belum ada alumni dari prodi lain yang melakukan kerjasama dengan pihak perpustakaan selain IKAIPI SUKA ini, kemudian harapan beliau kedepan semoga kerjasama ini menjadi percontohan bagi ikatan keluarga prodi yang lain bias melakukan hal yang sama. Selanjutnya beliau juga berpesan bahwa kerjasama seprti ini sebaiknya diperluas, bukan hanya dalam lingkup sektoral kampus saja, tetapi idealnya bias keluar melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, toko buku dan lain sebagainya. Setelah acara Penandatangana MoU tersebut, selanjutnya dirangkaikan dengan acara launching kartu anggota IKAIPI SUKA yang natinya dapat menjadi tanda bukti otentik yang bias digunakan saat berkunjung ke perpustakaan, sehingga pada saat acara tersebut, panitia menerima pendaftaran bagi alumni yang ingin membuat kartu tanda anggota.
     Setelah acara diskusi selesai, maka dilanjutkan dengan acara Penyerahan Cindera mata kepada para narasumber, cindera mata yang dipersembahakan kepada para narasumber merupakan sebuah kaligrafi karya dari Jogja Kaligrafi (M. Nursolikin), kemudian disusul penyerahan doorprize kepada para peserta yang telah ikut andil dalam diskusi, doorprize yang dipersembahkan kepada para peserta pun beragam, seperti jurnal FIHRIS dan buku The Keyword yang merupakan bentuk apresiasi dari Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu ada T-Shirt, Mug dan Pin ekslusif dari Librarian Traveller dan berbagai macam lainnya. Setelah semua prosesi acara selesai sekitar pukul 12.00 WIB, kemudian disusul dengan Photo bersama, lalu dilanjutkan dengan pembacaan do’a.
    Selanjutnya harapan atas terselenggaranya acara tersebut pada dasarnya untuk mempererat tali silaturrahmi, tercipta pola komunikasi yang baik dan persaudaraan yang kuat dan utuh antar sesama alumni, dengan prodi ilmu perpustakaan dan dengan mahasiswa, sehingga tercipta keluarga yang harmoni tanpa melihat latar belakang dan status yang selama ini menjadi momok. “Salam Pustakawan”.