Jumat, 08 Maret 2013

Seputar Dunia Buku


Jogja Itu Buku
(Barometer Dinamika Kultural Jogja)

Ketika mendengar, membaca atau melihat kata “Jogja” atau lengkapnya disebut Yogyakarta, maka hal apakah yang pertamakali muncul dalam benak anda?
Ya.., sebuah ibukota yang berada di bagian tengah Pulau Jawa ini kaya akan aspek predikat, baik berasal dari aspek sejarah maupun potensi yang ada, seperti kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, kota pariwisata, kota buku dan lain sebagainya. Mengapa tidak, sebutan Yogyakarta sebagai kota pariwisata menggambarkan potensi provinsi ini dalam kacamata kepariwisataan, karena Yogyakarta adalah salah satu daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia. Berbagai jenis obyek wisata yang dikembangkan di wilayah ini, seperti wisata alam, wisata budaya, hingga wisata pendidikan.
Predikat sebagai kota pelajar berkaitan dengan sejarah dan peran kota ini dalam dunia pendidikan di Indonesia, disamping adanya berbagai pendidikan di setiap jenjang pendidikan yang tersedia seperti perguruan tinggi, mulai dari tingkat akademi, institute, sekolah tinggi, maupun universitas, sehingga di Yogyakarta terdapat banyak mahasiswa dan pelajar yang hampir dari seluruh provinsi yang terdapat di Indonesia. Jadi tak berlebihan jika Yogyakarta disebut sebagai miniatur Indonesia. Keberadaan perguruan tinggi dengan mahasiswa tentunya memberikan keuntungan sendiri, khususnya bagi warga sekitar kampus dan seluruh lapisan masyakat pada umumnya. Berbagai usaha yang berkaitan dengan hiruk-pikuk kehidupan mahasiswa pun bermunculan, seperti usaha pemondokan (kos-kosan), kedai makan (angkringan, warung Burjo hingga café-cafe), toko buku, rental computer, rental buku, usaha fotocopy, hingga rental kendaraan (motor dan mobil). Usaha tersebut umunya diusahakan oleh masyarakat setempat. Yogyakarta memang selalu memberikan ketenangan dan kesederhanaan, mungkin karena daerahnya yang bukan termasuk kota industri seperti Jakarta dan Surabaya. Di Yogyakarta, masyarakat diajak untuk hidup sederhana seperti pola berpakaian sahaja dan yang paling penting adalah keramahan masyarakat serta keuntungan sebagai pelajar untuk menikmati suasana yang langka tersebut.
Semakin menambah hangatnya Jogja sebagai kota pendidikan, tentunya tidak terlepas dari begitu dinamisnya salah satu industry kreatif, yaitu dunia perbukuan di Jogja. Sebagai spirit yang terlihat dalam way of learning kaum intelektual di Yogyakarta, maka salah satu indikatornya, adalah Ikatan Penerbit Indonesia, sebuah organisasi yang menaungi dunia buku di Indonesia. Hal ini dapat kita jumpai dari semangat atau antusiasme kaum pelajar maupun masyarakat dalam hal membeli dan membaca buku. Oleh sebab itu, hampir di setiap perpustakaan (baik perpustakaan umum, perpustakaan kota, Taman Baca Masyarakat maupun perpustakan perguruan Tinggi) padat dikunjungi oleh pengunjung dan tak ketinggalan pula toko-toko buku yang tak pernah sepi oleh pembeli, baik kalangan kaum pelajar hingga para cendikiawan, tempat-tempat seperti ini tidak pernah sepi di Yogyakarta.
Berbagai event populer di Yogyakarta yang tak pernah berhenti melakukan gebrakan-gebrakan menarik yang kaya  inspiratif, diantaranya adalah kegiatan pameran buku atau grebek buku, book fair dan masih banyak nama-nama event seputar perbukuan lain yang dikemas semenarik mungkin. Tentu saja banyak kalangan yang ikut andil untuk memberikan konstribusi pada event tersebut, diantaranya para penerbit, kelompok-kelompok/komunitas pecinta buku, baik dari kalangan mahasiswa maupun cendikiawan, pustakawan-pustakawan hingga organisasi-organisasi mahasiswa dimana basic pendidikanya yang menggeluti dunia perbukuan (perpustakaan dan informasi). Acara tercebut digelar sebagi bagian dari citra pendidikan dan citra wisata Yogyakarta yang mengedepankan buku sebagai salah satu unggulannya, sehingga menjadi salah satu tempat wisata alternatif dan wisata intelektual bagi masyarakat, dan juga event tersebut dikemas dengan konsep representasi ikon-ikon wisata Yogyakarta, yang menjadikan buku sebagai salah satu oleh-oleh khas Yogyakarta, sehingga suasana Yogyakarta sebagai wisata buku benar-benar terasa di arena pameran, tentu saja event tersebut digelar secara terbuka, gratis untuk umum dan hadir secara continue di tiap tahunnya dengan pengembangan serta peningkatan program di dalamnya, dan juga senantiasa mengusung "warna lokal" di setiap kemasan tema, sehingga menjadikan nuansa keakraban dan pembauran dengan masyarakat di Yogyakarta terasa lebih berarti dan memiliki makna yang mendalam.
Berangkat dari hal tersebut, maka dapat dipastikan bahwa buku merupakan barometer dinamika kultural yang terdapat di Yogyakarta, dimana Yogyakarta menjadi melting pot dalam artian kancah pertemuan para mahasiswa dan cendikiawan yang datang dari berbagai penjuruh Indonesia dan kemudian berbaur dengan masyarakat untuk membangun sebuah komitmen budaya baca masyarakat, sehingga masyarakat Yogyakarta dikenal sebagai masyarakat yang memiliki tradisi/budaya baca yang cukup tinggi.
Oleh karena itu, perlu ada kerjasama yang sinergis antara masyarakat yang bergelut dalam dunia perbukuan seperti penerbit dan pengelola perpustakaan dan juga tentunya partisipasi aktif dari cendikiawan/mahasiswa yang bergerak dalam bidang ilmu perpustakaan untuk bersama-sama meningkatkan citra pendidikan dan citra wisata Yogyakarta sebagai kota pelajar/pendidikan agar mengedepankan buku sebagai salah satu program unggulannya, sehingga miniatur-miniatur pendidikan seperti perpustakaan/taman bacaan masyarakat di Yogyakarta menjadi salah satu tempat wisata alternatif dan wisata intelektual bagi masyarakat.