Selasa, 23 Desember 2014

Senang-Susahnya diatur oleh Si UU ITE

    

    Kehidupan masayarakat modern yang serba cepat menjadikan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi menjadi sesuatu harga mutlak, menjadi sesuatu kebutuhan primer yang setiap orang harus terlibat didalamnya kalau tidak mau keluar dari pergaulan masyarakat dunia, tetapi pemanfa’aatn teknologi informasi dan komunikasi ini tidak selamanya dimanfa’atkan untuk kesejahteraan, namun bisa juga menjadi suatu senjata ampuh untuk melakukan tindakan kejahatan, seperti marakanya proses prostiutsi, perjudian di dunia maya (internet). Itulah Senang-Susahnya. he.he.he.he.

    Dengan adanya Si UU ITE ini, maka : Transaksi dan sistem elektronik beserta perangkat pendukungnyamendapat perlindungan hukum. Masyarakat harus memaksimalkanmanfaat potensi ekonomi digital dan kesempatan untuk menjadipenyelenggara Sertifikasi Elektronik dan Lembaga Sertifikasi Keandalan, selain itu E-tourism mendapat perlindungan hukum. Masyarakat harusmemaksimalkan potensi pariwisata indonesia dengan mempermudahlayanan menggunakan ICT, kemudian Trafik internet Indonesia benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Masyarakat harus memaksimalkan potensi akses internet indonesia dengan  konten sehat dan sesuai konteks budaya Indonesia. dan juga Produk ekspor indonesia dapat diterima tepat waktu sama dengan produk negara kompetitor. Masyarakat harus memaksimalkan manfaat potensikreatif bangsa untuk bersaing dengan bangsa lain. keren kan.....
       Nah, ada Beberapa manfaat dari UU. No 11 Tahun 2008 tentang (ITE) nih , diantaranya:
•    Menjamin kepastian hukum bagi masyarakat yang melakukan transaksi secara elektronik.
•    Mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia
•    Sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kejahatan berbasis teknologi informasi
•    Melindungi masyarakat pengguna jasa dengan memanfaatkan teknologi informasi.
  
*Ada juga dampak positifnya loh :

• Transaksi dan sistem elektronik beserta perangkat pendukungnya mendapat perlindungan hukum. Masyarakat harus memaksimalkan manfaat potensi ekonomi digital dan kesempatan untuk menjadi penyelenggara Sertifikasi Elektronik dan Lembaga Sertifikasi Keandalan.

• E-tourism mendapat perlindungan hukum. Masyarakat harus memaksimalkan potensi pariwisata indonesia dengan mempermudah layanan menggunakan ICT.

• Trafik internet Indonesia benar-benar dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa. Masyarakat harus memaksimalkan potensi akses internet indonesia dengan konten sehat dan sesuai konteks budaya indonesia.

• Produk ekspor indonesia dapat diterima tepat waktu sama dengan produk negara kompetitor. Masyarakat harus memaksimalkan manfaat potensi kreatif bangsa untuk bersaing dengan bangsa lain.

*Kalo Dampak Negatifnya ada juga, he.he.he

• Isi sebuah situs tidak boleh ada muatan yang melanggar kesusilaan. Kesusilaan kan bersifat normatif. Mungkin situs yang menampilkan foto-foto porno secara vulgar bisa jelas dianggap melanggar kesusilaan. Namun, apakah situs-situs edukasi AIDS dan alat-alat kesehatan yang juga ditujukan untuk orang dewasa dilarang? Lalu, apakah forum-forum komunitas gay atau lesbian yang (hampir) tidak ada pornonya juga dianggap melanggar kesusilaan? Lalu, apakah foto seorang masyarakat Papua bugil yang ditampilkan dalam sebuah blog juga dianggap melanggar kesusilaan?

• Kekhawatiran para penulis blog dalam mengungkapkan pendapat. Karena UU ini, bisa jadi para blogger semakin berhati-hati agar tidak menyinggung orang lain, menjelekkan produk atau merk tertentu, membuat tautan referensi atau membahas situs-situs yang dianggap ilegal oleh UU, dll. Kalau ketakutan menjadi semakin berlebihan, bukanlah malah semakin mengekang kebebasan berpendapat.

• Seperti biasa, yang lebih mengkhawatirkan bukan UU-nya, tapi lebih kepada pelaksanaannya. Semoga saja UU ini tidak menjadi alat bagi aparat untuk melakukan investigasi berlebihan sehingga menyentuh ranah pribadi. Karena seperti Pak Nuh bilang, UU ini tidak akan menyentuh wilayah pribadi. Hanya menyentuh wilayah yang bersifat publik. Itu kan kata Pak Nuh. Kata orang di bawahnya (yang mungkin nggak mengerti konteks) bisa diinterpretasi macam-macam.

Fiuhhhhh..., setelah mengamatinya, maka perlu dilaksanakan sosialisasi terjait dengan konsep dan penerapan UU ITE secara menyeluruh, guna terciptanya masyarakat yang mengetahui segala informasi dan perkembangan tentang undang-undang ini sehingga dapat diterapkan secara maksimal dalam aplikasi teknologi. biar berul-betul maksiman Sob, he.he.he

*Sumber Gambar : http://gaptex.com/wp-content/uploads/2014/10/Isi-Lengkap-UU-ITE.jpg

Senin, 15 Desember 2014

Bahkan Calon Guru pun Belajar Aplikasi Perpustakaan


      Seperti sebuah ungkapan bahwa “Guru merupakan sosok pahlawan tanpa tanda jasa”, bagi seseorang yang pernah mengenyam pendidikan, maka tentu sangat familier kehadiran dan jasa seorang guru. Ya.., sebagian besar hidup kita merupakan bagian dari campur tangan seorang guru, mengajarkan banyak hal sehingga para peserta didik betul-betul mengetahui bahwa dunia ternyata seperti ini. Eksistensi guru sebagai tenaga pendidik, tentu saja tidak dapat terpisahkan dengan esensi perpustakaan sebagai pusat informasi atau pengetahuan. Akibat perkembangan teknologi dan informasi yang kian hari semakin kompleks, maka mereka (guru) seyogyanya juga peka terhadap perubahan tersebut.
       Salah satu bentuk perhatian dan update skill, maka mahasiswa program studi PGSD, Fakultas Keguruan Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa menyelenggarakan Workshop dan Pelatihan “Senayan Library Management System”, bekerjasama dengan Komunitas SLiMS Jogja. Kegiatan tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 06 Desember 2014, pukul 08.00 WIB-Selesai, bertempatkan di ruang Ny. Hajar (kampus II). Materi pelatihan tersebut mencakup kegiatan cara instalasi, implementasi dan simulasi. Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan, karena mereka dipandu secara langsung oleh tim komunitas SLiMS Jogja jika mengalami kendala, baik yang sifatnya teknis maupun non teknis. Para peserta nampaknya tidak merasa kesulitan saat melakukan instalasi, karena mereka diajarkan dengan menggunakan SLiMS-7 portable (psenayan). Dengan konsep instalasi yang simple dan tentu saja hanya bermodalkan pengetahuan “copy-paste” , kata pemateri.  
      Di akhir acara, utusan peserta mengucapkan pesan dan kesan, yang intinya bahwa mereka merasa senang sekali mengikuti kegiatan tersebut, karena selain menjadi bekal ketika melakukan kegiatan ekstra kurikuler kampus (KKN,PKL dsb), dan menjadi oleh-oleh ketika mereka kembali ke kampung halaman, terkait dengan distribusi ulang software SLiMS ke perpustakaan-perpustakaan di daerahnya.  Setelah acara berakhir, para tim Komunitas SLiMS Jogja diminta maju ke depan untuk diphoto bersama, sebagai kenang-kenangan  ^_^

Tim Trainer dari Komunitas SLiMS Jogja
(dari kiri : Fajar, Teguh, Purwoko, Heri Abi, Mukhlis, Anwar & Eddy)


Selasa, 09 Desember 2014

Refleksi FIlm AVATAR dari sisi Implementasi Teknologi dalam berkomunikasi secara Virtual

        Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi dan penjelajahan luar angkasa/antariksa, maka manusia mulai melebarkan kegiatan eksplorasi pertambangannya ke berbagai planet di sekitar tata surya. Pada Film Avatar, penonton disajikan dengan suasana settingan masa depan, tepatnya pada tahun 2154 di galaksi Bima Sakti, sekitar 4 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, ditemukan sebuah planet yang kemudian dinamakan Polyphemus, planet tersebut memiliki salah satu satelit yang ukuran dan karakternya mirip Bumi, nama satelit itu adalah PANDORA.
       Pandora memiliki keunikan tersendiri, selain karena di dalamnya terdapat kehidupan, juga karena adanya batuan unik yang bernama unobtainium, yang mampu melawan hukum gravitasi, batuan tersebut mampu untuk mengangkat bongkahan batu-batuan besar seukuran pulau kecil yang terikat dengannya untuk mengambang di udara. Konon batuan ini memegang peran penting dalam pengembangan teknologi pesawat luar angkasa yang mampu melakukan perjalanan antar galaksi. Pandora merupakan rumah bagi suku Navi, Mereka hidup alami layaknya manusia zaman dulu yang belum tersentuh peradaban, kerjaannya berburu dengan senjata tradisional (panah dan pisau) dan pakaian yang sangat terbatas. Eksistensi Pandora yang menawarkan berbagai macam kelebihan dan keunikan, maka Sebuah perusahaan swasta kaya mencoba untuk mengeksploitasi kekayaan sumberdaya planet ini. Dengan menggandeng ilmuwan untuk mengeksplorasi sains botani dan militer sebagai dukungan keamanan, maka keduanya sebagai mitra bisnisnya.
        Untuk dapat melakukan penelitiannya, maka perusahaan swasta membuat proyek agar dapat melakukan eksplorasi. Karena manusia tidak dapat menghirup udara di Pandora, maka mereka menciptakan makhluk mirip suku Na’vi yang mereka sebut sebagai Avatar. Avatar adalah sebutan untuk Na'vi hibrida tanpa nyawa yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan manusia dengan menggabungkan DNA Na'vi original dengan DNA manusia. karena tak bernyawa, maka Avatar harus "dikendalikan" oleh manusia dengan perantaraan sebuah alat canggih  dengan penyatuan system saraf otak sebagai kontrol dengan bantuan teknologi. Salah satu penelitian biologis yang dilakukan untuk mampu menjelajahi Pandora ialah, melakukan rekayasa genetika. Yakni DNA alien Na’vi dikembangkan dan telah lulus uji simulator Proprioceptive, agar supaya bisa dikloning dan kemudian dijadikan sebuah tubuh “boneka” yang bisa dikendalikan dari jarak jauh pikirannya oleh manusia dengan sebuah alat penghubung pikiran, kemudian implementasinya menggunakan teknologi canggih seperti ini :

         Selain misi utama dalam mengeksploitasi kekayaan alam, manusia juga mengajarkan suku Na’vi dengan kebudayaan dan bahasa manusia (Inggris). Selama bertahun-tahun akhirnya sedikit dari suku tersebut yang mau belajar dan mampu berbahasa Inggris. Namun hubungan baik antara manusia dan Na’vi tidak berlangsung lama, kerakusan manusia akan kekayaan alam membuat Na’vi geram, Sehingga manusia sangat dibenci oleh suku Na’vi. Eksplorasi pada planet Pandora terbilang cukup mudah, hal tersebut dikarenakan dengan bantuan dan dukungan teknologi canggih, baik peralatan transportasi, komunikasi/navigasi hinga suplay persenjataan yang mutakhir.
      Di sini penulis akan lebih banyak bercerita tentang penggunaan teknologi yang digunakan oleh perusahaan swasta yang ber-mitra dengan ilmuan dan militer untuk mengeksplorasi planet Pandora. Dengan berbagai peralatan yang bisa dibilang canggih, pada film ini, implementasi teknologi sebenarnya banyak mengambil peran untuk menambah kesempurnaan alur cerita film. Seperti monitoring terhadap pemetaan lokasi atau letak keberadaan sebuah pohon raksasa yang dinamakan Pohon Suara dan sangat dipuja oleh suku itu. Dengan bantuan alat navigasi visual tersebut, Jake Sully (diperankan oleh Sam Worthington) dengan mudah menjelaskan kepada Kolonel Miles (diperankan oleh Stephen Lang), terkait dengan kondisi dan keadaan secara detail pada lingkungan sekitar/sektor, termasuk aktivitas suku Na’vi., seperti pada gambar di bawah ini.
         Melihat kinerja dari tim ilmuan (proses pengumpulan data yang menggunakan avatar) yang dinilai kurang maksimal, maka Kolonel Miles pun akan menggunakan caranya sendiri untuk mengelsplorasi Pandora dengan peralatan militer yang sedang dikembangkannya, dengan prinsipnya “ terbuka bila ingin bekerjasama dan menghancurkannya jika menolak”.
            Meski mendapatkan sindiran dari kolonel,tetapi Dr. Grace (diperankan oleh Sigourney Weaver) tetap melanjutkan penelitian botani di Pandora, dengan peralatan yang canggih digunakan untuk mendapatkan sampel berbagai sel-sel dari berbagai tanaman yang terdapat di Pandora, berikut salah satu peralatan untuk pengambilan sampel tanaman.

          Pihak perusahaan swasta mengetahui bahwa letak unobtanium terbanyak berada tepat di bawah pohon besar tersebut, sehingga mereka melakukan pembersihan hutan menggunakan bulldozer system remot, seperti pesawat tak berawak, yang hanya dibekali dengan kamera yang dipantau dari pusat operasi/markas. Seperti pada gambar di bawah ini.
         Eksplorasi pun dimulai, dengan mengerahkan beberapa unit alat berat, sejenis escavator yang tanpa driver, dengan control langsung pada markas. Tindakan eksplorasi tersebut tentu saja mendapatkan perlawanan dari penduduk Pandora. Saat itu Jake Sully berada tidak jauh dari rute kendaraan berat tersebut yang menggilas apasaja yang ada di depannya. Jake Sully mencoba menghalau kendaraan tersebut, namun tidak digubris oleh driver yang ada di pusat operasi. Jake Sully pun naik pitam dan menaiki kendaraan tersebut  lalu menghantap kamera navigasi dengan batu hingga rusak, kendaraan berhenti karena driver tidak mempu melihat keadaaan disekitar. Melihat peristiwa tersebut, Kolonel Miles pun geram dan meminta untuk menampilkan reka ulang pada saat peristiwa penghancuran kamera, lalu teridentifikasi bahwa Avatar yang merusak kamera adalah Avatar yang dikendalikan oleh Jake Sully. Kemudian Kolonel Miles menyuruh anak buahnya untuk mengeluarkan Jake Sully secara paksa dari alat pengendali Avatar, termasuk dokter Grace, kemudian mereka dipenjara. 
       Melihat perlakuan Kolonel Miles yang seperti kesetanan tersebut, lalu seorang pilot perempuan membantu meloloskan Dr. Grace dan Jake Sully dengan mengeluarkan dari penjara dengan cara membunuh penjaga lalu melarikan diri dengan pesawat helicopter militer. Tindakan mereka pun diketahui oleh Kolonel Miles, lalu mereka mendapatkan serangan tembakan dari Kolonel Miles. Mereka berhasil melarikan diri dan selamat dari serangan tersebut, namun usaha mereka tampaknya tidak berjalan mulus, karena Dr. Grace terkena tembakan di bagian perut dan kondisi sedang luka parah dan mengalami pendarahan. Mereka menyembunyikan diri di shelter yang biasanya  mereka gunakan pada saat menjelajah di daerah hutan Pandora. Nyawa Dr. Grace pun tidak dapat diselamatkan.

         Jake Sully pun kembali masuk (pada alat yang tersedia di shelter) dan kembali melanjutkan bantuannya, ternyata keadaan di Pandora sudah berubah, pohon purba (tempat tinggal Eywa, dewi sembahan mereka) pun sudah tumbang, banyak suku Na’vi yang tewas akibat serangan brutal Kolonel Miles dan anak buahnya. Jake Sully pun dibenci oleh suku Na’vi karena dinilai dialah penyebab segala kejadian ini, karena ia merupakan jelmaan manusia untuk menghancurkan Pandora. Jake Sully berniat menolong suku itu agar tidak dihancurkan oleh pesawat-pesawat canggih manusia. Dia pun berhasil mengembalikan kepercayaan suku Na’vi dengan berhasil menaklukkan hewan bersayap besar berwarna merah, karena konon kepercayaan suku Na’vi, bahwa barang siapa yang berhasil menaklukkan hewan tersebut, maka dialah pemimpin seluruh suku yang berada di Pandora. Jake Sully pun meminta bantuan kepada masing-masing kepala suku untuk bekerjasama dalam memerangi manusia yang memasuki wilayah Pandora. 
            Peperangan sengit pun tak dapat dielakkan antara manusia dengan penduduuk Pandora, perang yang bisa dikatakan tidak seimbang, karena peralatan canggih melawan peralatan tradisional, namun akibat dari peperangan tersebut, semua anak buah Kolonel Miles pun tewas, karena mereka diserang oleh binatang buas yang berada di hutan Pandora dan begitu juga yang berada di udara. Pada akhir cerita, Kolonel Miles pun juga tewas terkena panah di bagian dada., ia dipanah oleh Neytri. Jake Sully pun sekarat, karena shelter yang ditempatinya dirusak oleh Kolonel Miles, disitulah Neytri melihat Jake Sully yang asli dan membawanya ke warganya untuk mendapatkan pertolongan, alhasil mereka berhasil memindahkan semacam roh Jake Sully ke tubuh Avatar, sehingga Jake Sully pun menggunakan tubuh Avatar tersebut selamanya.
     Film ini pada dasarnya adalah film tentang bagaimana manusia rela merusak alam demi keuntungan. Karena keganasannya pula, manusia tega merusak harmonisasi kehidupan mahluk di tata surya lain, yang selama berabad-abad sudah hidup serasi dengan alam. Dan di bagian akhir ditunjukkan, bagaimana alam juga bisa membalas. Berbagai hewan berdatangan dan ikut serta dalam pertempuran itu. Dan disitulah terlihat, bahwa peralatan canggih manusia ternyata tidak berarti apa-apa jika berhadapan langsung dengan kekuatan alam. Serta Kekuatan cinta lebih dahsyat dari kekuatan teknologi mutakhir sekali pun.
                                                       # The End #