Senin, 01 Desember 2014

The Success Story of Mr. Purwoko, MA

    
       Mas Pur (nama akrabnya), Adalah tipe orang yang seadanya dalam berpakaian waktu kuliah, seperti asal sekedar memenuhi syarat (baju/kaos berkerah), model belajar unik dan suka pinjam catatan teman ketika akan ujian adalah karakter yang menghiasi estapeta perjalanan hidup beliau saat menjadi seorang mahasiswa. Meninggalkan tanah kelahiran sejak tahun 2000 sebagai mahasiswa yang indekos. Setelah menikah pernah tinggal di Sorogenen 2 Kalasan Sleman dan sejak Februari 2012 pindah rumah ke kawasan Candi Sambisari, Kalasan Sleman. Beliau warga asli dari Ngliparkidul, Nglipar, Gunungkidul Yogyakarta. Saat ini, beliau selain bekerja sebagai pengelola perpustakaan, juga bergabung dalam komunitas pengembang SLiMS (SDC) (http://slims.web.id).
      Saat mengenyam pendidikan sebagai seorang mahasiswa, beliau mengawali di jurusan Ilmu Komputer di UAD (Univesitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta. Namun karena tak betah dengan mata kuliah Fisika dan Matematika maka beliau putuskan untuk keluar (hanya bertahan 1 semester). Setelah keluar dari universitas tersebut (sekitar awal tahun 2001) kemudian beliau melancong selama 3 bulan ke Jakarta (daerah Gandul, Depok) mengikuti paman yang menjadi tukang batu selama dua bulan. Kecintaan beliau terhadap Jogja dan iklim akademik membuat beliau pulang menjelang UMPTN dan mendaftar di D3 Ilmu Perpustakaan UGM (Universitas Gadjah Mada). Selepas lulus dari D3 Ilmu Perpustakaan UGM, beliau mengawali karirnya dengan magang kerja di Perpustakaan FISIPOL UGM sekitar bulan April tahun 2004. Dalam catatan sejarah beliau menyebutkan bahwa untuk diterima magang peserta ujian harus membuat rencana strategis perpusakaan yang akan dilamar (Fisipol UGM). Ketika diterima magang di perpustakaan tersebut, beliau bersama seorang teman kerja sempat berkelakar dengan ucapan "berapa lama kita akan di sini?". Dari kelakaran tersebut membuat penulis mencoba memahami makna dibalik ungkapan beliau tersebut. Ungkapan yang multy-tafsir tersebut bisa bermakna lama bekerja, betah atau tidak, bertahan atau bahkan mundurdan sebagainya.
    Di perpustakaan inilah beliau belajar ilmu perpustakaan yang sesungguhnya. Kenapa? karena di perpustakaan tersebut beliau disuguhi berbagai pekerjaan kepustakawanan secara serius. Sebelumnya beliau pernah diminta mengurusi perpustakaan lembaga mahasiswa, namun sepertinya (menurut beliau) tak begitu serius. Kegiatan/pekerjaan yang dimaksudkan seperti membuat buku induk, memindah metadata ke worksheet sekaligus menyusunnya, diberi tanggungjawab kerapihan rak buku, menjaga tas pengunjung, fotokopi pesanan mahasiswa, menjadi petugas bagian referensi, sampai bersama-sama ikut membersihkan perpustakaan pernah beliau lakukan. Berbagai eksperiment (baca: percobaan) beliau pun lakukan di perpustakaan, dan hasilnya pun kelihatan, misalnya sebuah komputer rusak karena sering di-otak-atik dalam berbagai percobaan beliau. Pada masa awal bekerja, beliau mengambil langkah awal, yaitu ingin tahu lebih banyak tentang jurusan tempat beliau bekerja, misalnya dengan cara searching dan bahkan semangat mencari tahu itu sampai menggiring beliau mencari mailing-list dosen di jurusan ini. Akhirnya beliau pun menemukannya. Dari sanalah beliau mendapatkan banyak informasi tentang dosen-dosen muda yang sedang menyelesaikan program doktor di luar negeri. Beliau mencoba menyapa dosen-dosen ini (membangun komunikasi dan jaringan).
      Setelah magang di Perpustakaan Fisipol UGM selama tiga bulan lamanya, kemudian beliau diterima bekerja di Perpustakaan FT UGM dan ditempatkan di Perpustakaan Jurusan Teknik Geologi UGM mulai 1 Juli 2004. Pada saat bekerja di perpustakaan ini pula beliau mendapat kesempatan ikut bertugas di Stasiun Lapangan Geologi Bayat Klaten. Melihat apa yang dilakukan mahasiswa Geologi lebih dekat. Kesempatan pertama mendapatkan projek membuat web juga beliau alami di sini. Web Intenasional Fieldwise Seminar (fws.ugm.ac.id - sudah tak aktif) beliau kerjakan bersama seorang rekannya. Keahliah terhadap teknologi informasi itu jugalah yang mengantarkan beliau menjadi salah satu developer software otomasi perpustakaan SLiMS (Senayan Library Management System) dan dipercayakan menjadi lead developer tahun 2013-2014. Keaktivan beliau sebagai seorang pengembang SLiMS, membuat beliau semakin sibuk dalam beraktivitas, seperti mengadakan pelatihan rutin dengan teman-teman komunitas yang dikenal dengan istilah “Sinawu Bareng”. Kegiatan pelatihan otomasi, konsultasi yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, seperti pustakawan, mahasiswa dan pemerhati perpustakaan. Selain itu, juga diminta mengelola web jurusan, membangun web perpustakaan serta membuatkan web seorang staf, kehangatan hubungan dengan karyawan dan dosen juga beliau alami selama bekerja sebagai seorang pustakawan hingga saat ini.
Ketika ada 2 slot pegawai honorer SK Rektor UGM di jurusan ini kosong. Ketika itu ada 1 staf yang meninggal dan 1 mengundurkan diri. Dari dua slot itu, satu slot diberikan kepada beliau untuk menggantikan. Sehingga ketika rekan pustakawan seangkatan beliau di FT UGM masih SK Dekan, beliau pun sudah mendapatkan SK Rektor. Sangat beruntung pula, karena manajemen jurusan terbuka pada perubahan dan mendorong staf untuk maju. Akhirnya beliaupun memutuskan untuk melanjutkan S-1 jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2005 dan lulus pada tahun 2007. Setelah lulus S-1, keberuntungan berikutnya beliau dapatkan. Edaran kesempatan mendapatkan beasiswa studi lanjut dari UGM berpihak pada staf honorer. UGM membuka kesempatan bukan hanya untuk PNS, namun honorer dengan masa kerja minimal 5 tahun pun diperbolehkan ikut memperebutkan beasiswa. Akhirnya beliaupun mendaftar. Pada proses ini banyak pihak di Jurusan Teknik Geologi UGM yang berbaik hati pada beliau dan membantu proses administrasi. Beasiswa S2 tersebut beliau anggap sebagai anugrah besar yang jika ukur dengan uang, beliau rasa lebih besar daripada selisih gaji dan selisih kenyamanan sebagaimana yang pertama kali beliau duga daripada rekan yang ditempatkan di perpusakaan jurusan lain di FT UGM. Allah memberikan kemudahan. Perpustakaan Teknik Geologi UGM menjadi tempat berproses kedua beliau dalam hal kepustakawanan dan kepribadian. Mulai dari pematangan mental, ujian moral, emosi, serta keterampilan berkaitan dengan perpustakaan baik soft maupun hardskill. Misalnya mahasiswa di Jurusan ini, terutama mahasiswa pascasarjananya berasal dari berbagai negara ASEAN. Maka kemampuan bahasa inggris untuk melayani mereka menjadi wajib. Kami akhirnya bersepakat, bahwa selain untuk melayani mahasiswa asing ini, kita juga bisa memanfaatkan keberadaan mereka untuk belajar bahasa inggris. Maka kami memberlakukan "english day" di perpustakaan. Mahasiswa dihimbau berbicara dengan bahasa inggris ketika berinteraksi di perpustakaan. Meski hasil TOEFL beliau tak begitu tinggi, namun tingkat percaya diri kami (pengelola perpusakaan) naik. Kebijakan lain juga pernah beliau kerjakan, seperti ikut mendapat jatah jaga gedung. Ketika itu untuk jaga gedung pada hari libur (malam dan siang) dibebankan pada staf. Di tempat lain mungkin ini berat. Ketika mendapat tugas ini justru dapat digunakan untuk bisa saling lebih mengenal antar staf. Ikatan emosional dengan kawan lainpun akhirnya beliau rasakan bisa lebih baik lagi.
      Tepat pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2012 beliau diminta pindah ke Perpustakaan FT UGM. Tahun pertama, beliau gunakan untuk menata SDM dengan sebaik-baiknya serta beberapa percobaan kegiatan sebagai pengganti kegiatan sirkulasi yang selama sebelumnya menjadi tumpuan utama dan bahkan satu-satunya. Tahun kedua, beberapa kegiatan perpustakaan mulai dirapihkan dengan jadwal yang lebih teratur. Workshop atau lokakarya, beliau akui menjadi kegiatan khas utama di perpustakaan ini. Pada tahun 2014 sampai bulan Mei (lebih kurang 5 bulan), perpustakaan telah menyelenggarakan 40-an kelas workshop. Mulai awal tahun kami membuka workshop tanpa biaya dengan materi Mendeley, Zotero, Prezi dan X-Mind. Untuk Mendeley, kami telah tembus sebagai Mendeley Advisor sehingga dalam penyelenggaraan workshop kami mendapat dukungan dari Mendeley.org. Lumayan, kami mendapatkan blocknote, pena, marker, kaos, laser pointer, post-it paper dari Mendeley Amsterdam untuk dibagikan kepada peserta workshop. Layanan membantu pencarian artikel bagi yang kesulitan juga meningkat. Seorang alumni yang ada di Belanda bahkan juga terang-terangan berminat membantu. Perbaikan website, pengayaan informasi pada web, membangun aplikasi pendukung (LibX), sosialisasi berbagai layanan juga lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kegiatan dengan mahasiswa, penggunaan jejaring sosial untuk masuk ke komunitas mahasiswa, "menjual" perpustakaan FT kepada pemustaka dari luar FT UGM juga menunjukkan grafik meningkat. Mengenalkan perpustakaan FT UGM bagi mahasiswa/civias non FT UGM menjadi salah satu misi beliau. Perpustakaan FT UGM harus dapat menempatkan diri ditengah-tengah warga UGM, tidak hanya warga FT UGM. Selanjutnya, meski beberapa kegiatan mulai menampakkan hasil, pekerjaan rumah terkait positioning perpustakaan belum muncul. Sambil belajar, beliau menemukan konsep research library. Bagi beliau, ini menarik untuk dijadikan brand perpustakaan. Segala yang dilakukan selama ini dapat dikumpulkan dan dirumuskan menjadi konsep research library, dan pustakawannya harus memenuhi kualifikasi research librarian. Tahun ke-3 semestinya dimulai dari Mei 2014 ini. Masih ada 6 bulan sampai akhir tahun. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan oleh beliau. Target tahun 2014 harus dikejar terlebih dahulu dan berikutnya tahun 2015 dan seterusnya.
        Dari perjalanan hidup beliau dalam berkarir, maka banyak sekali hal-hal yang tentunya bias kita jadikan sebagai bahan renungan, motivasi dan bahan inovasi, mengingat eksistensi seorang pustakawan di era modern seperti ini sangat berpengaruh dan dibutuhkan, semuanya akan kembali ke pertanyaan di atas,.. “berapa lama kita akan di sini?”. terima kasih Mas Purwoko atas motivasimu, jejak karirmu ini patut untuk diteladani.
     Demikian lah sekilas success story yang penulis sampaikan, beliau berpesan : “Untuk rekan pustakawan yang merasa ditempatkan di perpustakaan yang kurang bagus, jangan sesali. Namun justru tempat itu akan menjadi wahana luas berproses, menempa serta menguji kemampuan”. Intinya, pustakawan itu keren..!
*Silakan dikontak via tamanjiwa@gmail.com, atau twitter @maspurwoko, atau http://mustoko.blogspot.com/

Selasa, 25 November 2014

Cyber Religion : Beragama Secara Online






      Pada masa trend seperti saat sekarang ini, agama menjadi sangat praktis karena seluruh pertanyaan-pertanyaan spiritual dapat ditemukan di dunia virtual secara cepat dan beragam. Entah itu melalui surat elektronik, grup diskusi, membaca laman di situs internet atau bisa juga mengunduh file. Kita ketahui bersama, bahwa sebenarnya cyber religion merupakan aktivitas keagamaan yang dilakukan secara online. seperti yang dikutip dari (http://news.detik.com/read/2008/07/30/114044/980106/471/cyber-religion?n...), bahwa pada kenyataa agama menjadi sangat praktis karena seluruh pertanyaan-pertanyaan spiritual dapat ditemukan di dunia siber seketika itu juga. Entah itu melalui surat elektronik, grup diskusi, membaca laman di situs internet atau bisa juga mengunduh file. Di dunia siber siapa pun bisa mengabaikan sosok fisik guru spiritual (ulama, pendeta, pastur, biksu, dan sebagainya) yang selama ini dianggap ahli dan memiliki kapabilitas dalam mengajarkan segala sesuatunya mengenai agama, dan menggantikannya dengan mengakses internet. Brenda Brasher’s (Give Me That Online Religion, 2001) mendefinisikan cyber - religion sebagai kehadiran institusi dan aktivitas keagamaan di dunia siber. Sementara Lorne L Dawson (Anti-Modernism, Modernism, and Postmodernism, 2000) mengartikan sebagai organisasi atau grup keagamaan yang eksistensinya hanya berada di dunia siber. Sementara bagi Morten T Hojsgaard (Religion and Cyberspace, 2005) menyebutkan bahwa ada tiga perbedaan konsep mengenai agama di dunia online, yaitu adanya komunikasi virtual yang menggantikan komunikasi bersifat nyata (Mediation), tidak perlunya institusi keagamaan yang bersifat komplit (Organization), dan refleksi dari kultur siber yang menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (Content). Morten T Hojsgaard (Religion and Cyberspace, 2005) menyebutkan bahwa ada tiga perbedaan konsep mengenai agama di dunia online, yaitu adanya komunikasi virtual yang menggantikan komunikasi bersifat nyata (Mediation), tidak perlunya institusi keagamaan yang bersifat komplit (Organization), dan refleksi dari kultur siber yang menggantikan refleksi dari tradisi keagamaan (Content).
      Berdasarkan dari penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa Cyber Religion pada dasarnya sebagai sarana yang dapat menembus ruang dan waktu, karena aktivitas virtual dapat menggantikan aktivitas konvensional yang mengharuskan seseorang untuk bertemu secara face to face, maka dengan ciber religion ini membuat berbagai macam aktivitas dapat dilakukan secara cepat. Secara online, pengguna internet dapat mengakses informasi mengenai ritual keagamaan dan tata cara melakukannya. Sehingga pengguna internet merupakan bagian dari pemeluk agama dunia yang melakukan kredo kegamaan yang sama. Namun dibalik kemudahan tersebut, tentu saja sebagai masyarakat tidak ada salahnya untuk berhati-hati, mengingat di dunia virtual dapat kita temui berbagai portal khusunya dalam konteks religion, jangan sampai terjerumus terhadap pemahaman atau aliran yang dapat menyesatkan. Kita perlu mawas diri.

*Ilustrasi : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkXUdQqg_AvIgvRAhxU3S9cvUGtpAkTptEJwv584Q4Uu4tAX8YN8VqjsHQpi0GlVK4rkyWE_HEf06ueHNlcAXMKNZMjwXhjP8Q_hxs3iEUn6NYqpcJxAgnOrV9NhvC7VH98bL69iCyhVs/s1600/langkah-sederhana-bisnis-online.jpg

The Home Library : Perlu nggak Sich ?


      
      Segala hal kecil yang menjadi karakter seseorang, umumnya dimulai dari rumah. Jika ditelusuri, segala kebiasaan aneh, gokil, lebay/alay, atau ajaib sekalipun umumnya berakar dari rumah, begitu juga dengan kebiasaan atau minat akan membaca pada tiap manusia. Kegemaran membaca sendiri sebagai bagian dari proses menambah intelektualitas dan sudah terbukti kebenarannya. Berkaca dari pengalaman berbagai tokoh ahli maupun cendekiawan yang terkenal akan prestasi dan kemampuan akademik mereka, sebagian besar pengetahuan yang mereka dapatkan dari buku yang mereka koleksi atau sumber bacaan lain yang telah mereka baca.
     Sebagai makhluk tuhan yang berkecimpung dalam dunia akademik, tentu memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, termasuk kecintaan terhadap buku sebagai wadah khasanah pemikiran anak bangsa yang perlu dilestarikan keberadaannya. Tentu saja dari berbagai tuntutan-tuntutan akademik tersebut yang mengharuskannya untuk memiliki berbagai koleksi buku sebagai bahan referensi kuliah. Wajar saja jika Cicero, seorang orator dan penulis prosa terkenal di abad 43 SM. Mengemukakan bahwa “A room without books is like a body without a soul”. Rumah seseorang yang gemar membaca buku setidaknya pasti memiliki suatu tempat yang dikhususkan untuk menyimpan buku, entah itu lemari, meja belajar, meja kecil atau bahkan ruangan yang memang diperuntuhkan sebagai perpustakaan rumah alias home library.
Sebagain besar dari kita sendiri pun bertanya-tanya, home library itu penting tidak dan mengapa harus disertakan dalam hidup kita, menurut Jatinegara (2009:8) bahwa beberapa alasan perlunya memiliki home library  adalah sebagai bearikut :

1.    sebagai ruang penyimpanan (storage) agar koleksi tersebut dapat tertata rapi
2.    memperindah ruangan dari sisi interior
3.    menumbuhkan minat baca bagi penghuni/pemiliknya
4.    sumber referensi bagi keluarga
5.    menjadi tempat alternatif untuk menunjang pekerjaan
6.    sebagai tempat/pusat informasi jangka panjang
7.    sebagai media pembelajaran yang praktis

    Oleh sebab itu, menciptakan home library, tidak hanya membuat koleksi tersimpan dengan baik dan rapi, tapi lebih dari itu dapat meningkatkan minat baca. Begitu juga dengan adanya home library, diharapkan dapat membuat kita semakin menghargai buku dan menunaikan hak-haknya, serta keberadaanya (home library ) dapat memperindah ruangan (rumah) dengan cara yang elegan dan masih banyak lagi kelebihan yang lainnya.

*Sumber Inspirasi : Majalah " Ragam Inspirasi Perpustakaan Rumah".
*Tulisan pernah dimuat di : http://www.alusyogya.org/2012/04/home-library-perlu-nggak-sich.html
*ilustrasi  : http://cdn.freshome.com/wp-content/uploads/2012/07/library_home.jpg

Belajar Merawat Si Buku

      



      Setiap manusia, pasti mengenal atau memiliki yang namanya cinta, [Cieee…^_^]. Untuk urusan cinta, biasanya manusia siap melakukan apa saja atau siap menerima konsekwensi apapun untuk hal-hal/sesuatu yang dicintainya [asseek]. Disini saya mencoba mengajak para pembaca (yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng ini) untuk menyamakan persepsi terlebih dahulu, yaitu pembahasan ini mengarah kepada cinta yang terkait dengan koleksi buku. Bukan persoalan cinta kepada pasangan atau lawan jenis [he.he.he, sorry bray..].

      Bagi kita-kita nih, pasti mengenal dan paling tidak memiliki koleksi buku yang disimpan di tempat tinggal masing-masing, sedikit banyaknya bukan masalah. Nah, mengoleksi atau memiliki buku merupakan salah satu bukti bahwa kita punya perhatian dan ketertarikan (baca: cinta) kepada buku-buku yang dikoleksi tersebut, karena kenapa? Ya… buktinya masih disimpan, kalo gak suka atau gak diperhatikan pastinya dia (buku) sudah “minggat” dari rumah [entah dijual atau digimanaain gitu, he.he.he]. Ok, kita kembali ke masalah buku tadi, bukan ke rumah. Bagi kalangan para pecinta buku misal dosen, peneliti, ilmuan, mahasiswa tentunya, bisa dipastikan bahwa kalangan seperti ini akan siap melakukan berbagai macam cara agar koleksi buku-buku mereka tetap dalam kondisi baik [ehemm..,cinta sejati nih sob]. Perlu diketahui, bahwa seperti halnya manusia buku juga punya musuh [musuh abadi po piye, he.he], tentu saja musuh yang dimaksud disini adalah musuh alamiah seperti debu, suhu, rayap dan sinar matahari.

     Agar buku yang kita koleksi dapat terhindar dari berbagai musuh tersebut di atas, maka langkah apa saja sih yang perlu dilakukan atau dalam bahasa Jawa ”tur, Aku kudu piye dab”. Nah agar buku dapat terhindar dari debu, beberapa cara dapat dilakukan, antara lain :

1. Bersihkan buku dengan kemoceng, jagan lupa membersihkan bagian punggung buku karena bagian inilah yang tampak jelas dari rak buku.

2. Bersihkan buku dengan lap kering, jika debu yang menempel cukup tebal, bias membasahi sedikit kain lap tersebut lalu dilap secar perlahan.

3. Membuka-buka buku per-halaman

4. Lakukan penyedotan menggunakan vaccum cleaner.

Gampang kan caranya, nah biar gak kenapa-napa pas lagi memberantas si debu, ada tipsnya nih, [kasih tahu nggak ya...]. cekidot.

*Pertama, jika alergi terhadap debu, maka sebaiknya menggunakan perlengkapan khusus yang dapat menghindarkan anda dari resiko terkena debu [bukan melarikan diri loh ya..]. Misalnya menggunakan sarung tangan, masker, kaca mata plastic bening [jangan yang lensa hitam, he.he], slayer untuk menutupi kepala atau memakai topi [biar ente kelihatan keren, he.he].

*Kedua, ketika akan menyedot debu, sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari, karena udara dari luar ruangan yang dihirup masih relative segar, sedangkan jika siang atau sore hari tingkat kejernohannya sudah berkurang atau jenuh [bukan bosan, he.he] karena sudah terkontaminasi dengan polusi.

*Ketiga, pilihlah alat penyedot debu yang pas digenggam dan tidak terlalu berat [nanti repot banget bray].

*Keempat, biasakan untuk langsung mencuci tangan atau langsung mandi agar badan bebas dari sisa-sisa debu yang menempel.

*Kelima, bias dipastikan semoa koleksi buku-buku merasa bahagia dan anda pun legaa..

Nah, gampangkan caranya, semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan pencerahan.

-Sumber inspirasi (tips) : Majalah Seri Rumah Ide : “Home Library”, Edisi 1/III. Gramedia. Hlm.34-35. Tahun 2007.
-Sumber gambar : http://cdn.kaskus.com/images/2014/03/24/6118503_20140324112552.jpg
  

Senin, 24 November 2014

Fakta Sejarah tentang Media Tulis: Regenerasi catatan memori pengetahuan manusia dari masa ke masa

    
    Jika mendengan istilah atau ungkapan tentang tulisan, maka hal pertama yang muncul di benak kita adalah media tulis tersebut, misalnya wujud medianya berupa kertas yang dikemas dalam bentuk koran, majalah, buku, dsb hingga format digital/elektronik. Tentu saja dari berbagai media tulisan tersebut tak lepas dari berbagai macam perubahan format atau bentuk medianya seiring perkembangan zaman. Berikut ini penulis mencoba menguraikan jenis media tulis manusia sepanjang sejarah.

1. Papyrus (4.000 SM)
Kertas papyrus terbuat dari tanaman air daun alang-alang (Cyperus Papyrus). Bentuknya merupakan gulungan, dan bentuk awal buku atau buku kuno ini masih dipakai hingga tahun 300 Masehi. Tulisan hierogtif yang diperkenalkan oleh bangsa Mesir Kuno dengan bentuk hurufnya berupa gambar-gambar atau tulisan pada batu dan kertas papyrus. Selain itu, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus tersebut erkadang hingga puluhan meter, terbukti di British Museum di London terdapat naskah berbahan papyrus yang panjang gulungannya mencapai 40,5 Meter.

2. Perkamen/Pergamenum (654-690 Masehi)
Orang-orang di Timur Tengah menggunakan kertas kulit dari domba. Tes karbon-14 menunjukkan beberapa perkamen berasal dari tahun 645-690 sesudah masehi, perkamen lebih kuat inilah bentuk awal dari dari buku yang berjilid.

3. Codex
Pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kayu yang keras disebut codex. Codex merupakan bahasa Latin untuk “buku”, merupakan nenek moyang buku modern. Codex terdiri dari lembaran papyrus dan perkamen yang dibundel, ditumpuk dan dijahit.

4. Kertas (105 Masehi)
Pada tahun 105 Masehi, Ts’ai Lun, seorang Cina di Tiongkok telah menciptakan kertas dari bahan serat yang disebut “hennep”. Penemuan tersebut mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan.

5. Buku
Semua penemuan yang menakjubkan tersebut telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah untuk dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita mendapati berbagai macam buku terbit silih berganti dengan penampilan yang semakin menarik.

6. Buku Elektronik
Buku elektronik atau e-book merupakan buku digital versi elektronik dari buku, berisikan informasi digital yang juga berwujud teks atau gambar.

        Sebagai tindak lanjut dari penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang sangat signifikan dari dunia perbukuan. Penemu mesin cetak pertama bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg, merupakan seorang berkebangsaan Jerman. Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden. Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dan ditulis tangan. Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu juga dikenal buku kuno yang ditulis di atas daun lontar, yang kemudian dijilid membentuk sebuah buku. Di era modern seperti sekarang ini, teknik cetak yang lebih sempurna dengan adanya mesin cetak offset yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
Melihat adanya berbagai perkembangan tersebut, maka Sungguh sangat ironi jika kita yang hidup di zaman serba modern ini masih malas membaca, semuanya serba mudah, dan serba mungkin."membaca itu asyik".


Sumber Inspirasi : EYD Magz #1 Mei 2013, Hlm. 18-19.
Sumber gambar : http://fc01.deviantart.net/fs71/i/2013/327/6/9/papyrus___personal_use_on...

Sabtu, 22 November 2014

Jagongan Bareng Alumni : Memaknai Kesuksesan dalam Keberagaman

      
    
       Acara yang diselenggarakan oleh Pengurus IKAIPI SUKA pada hari sabtu, tanggal 01 November 2014 di Taman Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara sarasehan atau trend-nya lebih dikenal dengan istilah  Jagongan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Mengawali acara dimulai dengan pembacaan Qalam Ilahi, kemudian disusul dengan menyanyikan lagu kebangsaan (Indonesia Raya) dan dilanjutkan dengan sambutan, baik dari ketua panitia (Ardian Kusuma, SIP) hingga ketua umum IKAIPI SUKA (Supriyadi, SIP). Dari isi sambutan dari kedua utusan tersebut dapat disimpulkan bahwa acara jagongan yang dengan tema yang diusung “Memai Kesuksesan dalam Keberagaman” dengan menghadirkan beberapa alumni (narasumber) yang memiliki berbagai bakat yang patut diapresiasi dan tentu saja mempunyai success story dibidang profesi masing-masing, seperti alumni yang berkarir dibidang yang sesuai dengan pendidikannya semasa studi (ilmu perpustakaan), ada juga alumni ilmu perpustakaan yang kemudian bergelut dibidang usaha supplier pada sektor peternakan, selain itu ada juga yang berprofesi selain jadi pustakawan, menjadi guru sekaligus menjadi designer dan kaligrafher. Selain itu ada juga yang menekuni bidang penyedia jasa informasi di internet yang atas kiprahnya tersebut banyak membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi, (khususnya mahasiswa dalam memenuhi tugas kuliah mereka), baik lintas nasional hingga mancanegara. Pada acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan yang juga bertindak sebagai salah satu narasumber. Tentu saja dari latar belakang pendidikan yang sama dengan bidang profesi yang berbeda merupakan sebuah keunikan tersendiri dan harapannya nantinya mampu memberikan pandangan serta wawasan yang bervariasi kepada generasi penerus (mahasiswa) agar nantinya ketika menyelesaikan studianya mampu memilih dan meniti karir yang berbeda-beda sesuai dengan bakat dan minatnya.
         Acara jagongan ini diawali dengan pembacaan CV (biodadata ringkas) dari para narasumber, dengan dipandu oleh Moderator (Mukhlis,SIP), setalah itu dilanjutkan dengan pemaparan success story dari narasumber secara berurutan yang dimulai dari Bapak Hadi Pranoto, SIP (Pustakawan BPAD Yogyakarta). Oleh Bapak Hadi, dalam pemaparannya mengutarakan bahwa dalam berfrofesi sebagai pustakawan, kita dituntut untuk senantiasa melakukan perbaharuan keilmuan, mengingat perkembangan zaman, khususnya perkembangan teknologi informasi, sehingga tuntutan untuk terus belajar itulah tidak pernah berhenti, meskipun sudah masuk dalam ranah dunia kerja. Selain itu, oleh Bapak Hadi juga mengajak mahasiswa berdialog terkait dengan tujuan mereka (mahasiswa) kuliah, diantar pertanyaan tersebut adalah : mencari ilmu, mencari nilai, mencari teman atau mencari ijazah, dst. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada mahasiswa, banyak diantaranya yang tidak mamampu menjawab, mengingat pertanyaan tersebut menurut mereka semuanya merupakan kebutuhan. Pada akhir pemaparan tersebut, diambil benang merahnya bahwa dalam menuntut ilmu pada hakikatnya bukan semata-mata untuk mengejar nilai atau ijazah, namun sebenarnya terletak pada bagaimana kita betul-betul mencari jati keilmuan dalam artian bahwa kecendrungan atau ketertarikan kita dari berbagai mata kuliah yang digeluti selama kuliah yang paling dikuasai atau diminati, sehingga nantinya ketika lulus, kita sudah memiliki kompetensi atau spesialisasi pada satu bidang tertentu, meskipun yang lainnya tidak boleh diabaikan, karena semuanya memiliki keterkaitan dan saling mendukung satu sama lain.
      Pemaparan yang kedua, disampaikan oleh Muh. Nursolikin, A.Md. beliau berprofesi selain menjadi pustakawan, menjadi guru sekaligus menjadi designer dan kaligrafher. Dalam pemaparaannya Bapak Solikin menyampaikan yang intinya bahwa dalam hal kebaikan, mencoba itu lebih baik daripada tidak pernah, takut untuk mencoba dapat melahirkan rasa penasaran yang berkepanjangan hingga berujung pada penyesalan. Memang hobbi beliau sewaktu kuliah adalah mengecat tembok, pernah juga bekerja sebagai pembantu yang mengecat rumah-rumah warga, sehingga terpikirkan oleh beliau bahwa ada baiknya belajar berkreasi, maka dimulailah melakukan kaligrafhi dan desain, hingga saat ini, beliau mampu membuktikannya, orderan kaligrafhi mulai berdatangan, selain itu beliau juga membuka kursus kaligrafhi dan desain. Pesan moral dari pemaparan beliau adalah tidak ada salahnya mencari pekerjaan tambahan kalau pekerjaan tersebut merupakan sebuah kegemaran bagi kita, dan bermanfat bagi orang lain, meski hal tersebut tidak diperoleh dari bangku kuliah dan itulah yang mampu membedakan antara kita dengan yang lainnya.
      Pemaparan yang ketiga, disampaikan oleh Bapak Ari Suseno, dalam pemaparannya, beliau mencaritakan kisahnya sewaktu kecil yang sedikit memiliki kegemaran berbeda dengan anak-anak seusianya, beliau lebih senang mendengarkan radiao saat mengembala kambing, daripada bermail laying-layang atau kelereng. Dari kegemaran tersebut beliau kemudian berfikir bahwa menjadi seorang penyiar radio atau wartawan sepertinya menarik, bisa kemana-mana meliput berita kemudian menyiarkannya lewat radio. Dari kegemaran dimasa kecilnya itulah yang mengatarkannya hingga saat ini menjadi seorang penyedia jasa informasi di internet. Dari hobbi beliau membaca, menulis/mengetik hingga ng-blog. Berbagai konten informasi yang disajikan dalam website beliau, dari pengakuan mahasiswa yang hadir pada saat itu, website beliau merupakan website yang paling sering dikunjungi oleh mahasiswa dalam mencari materi untuk pembuatan tugas kuliah hingga mencari judul skripsi. Menjadi penyedia informasi merupakan pekerjaan yang baik, selain membantu ada proses pembelajaran yang lebih didalamnya, karena bagaimana kemampuan mencari dan mengolah informasi hingga bagaimana informasi tersebut dapat diperoleh orang yang membutuhkannya.
      Pemaparan yang keempat, disampaikan oleh Bapak Sugeng Kurniawan, SIP. dalam pemaparannya, beliau menceritakan kisah hidupnya ketika masih menjadi mahasiswa yang memang senang menggeluti dunia bisnis, mulai dari jualan pulsa, tissue dan sebaganya. Beliau juga menceritakan bahwa untuk langkah awal dalam membangun jiwa pembisnis sebenarnya dimulai dari cara menawarkan produk kepada teman sendiri, itu merupakan sebuah proses. Kalau mau dibilang melenceng dari ilmu yang didapat di bangku kuliah, tidak serta merta bisa dikatakan demikian, kata beliau. Lebih lanjut dijelaskan bahwa masih ada yang bisa digunakan, missal pengalaman ketika melakukan presentasi di kelas, menjalani proses birokrasi kampus, negosiasi dengan teman atau dosen dan lain sebagainya itu hal yang paling utama yang digunakan dalam dunia bisnis, kalau dari segi kelilmuan memang iya, tapi dari segi teknis masih ada yang bisa digunakan. Dengan begitu beliau sadar bahwa menggeluti usaha diluar jalur keilmuan saja masih ada beberapa hal yang bisa digunakan, apalagi kalo kita menggeluti sebuah profesi yang betul-betul sesuai dengan keilmuan, maka alangkah ruginya jika tidak dimaksimalkan ilmu itu. Sehingga akhir pemaparan belaiu berpesan bahwa berkarir di luar disiplin kelimuan bukanlah hal yang mustahil, yang penting ada kemauan, kemampuan dan kesanggupan untuk melakukannya, maka lakukanlah karena kesempatan itu terjadi hanya sekali seperti halnya dengan hidup.
       Pemaparan yang kelima, disampaikan oleh Ibu Sri Rohyanti Zulaikha. dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang “IBU” (Kaprodi IP), secara pribadi merasa berbangga hati melihat prospek alumni yang berkarir di berbagai bidang, tentu saja kata beliau bahwa menghadirkan alumni-alumni (nara sumber) seperti ini memang bisa dikatakan sulit, mengingat keragaman profesi yang ditekuni, tetapi sebenarnya ini merupakan sebuah bukti nyata bahwa alumni IP mampu bersaing di dunia kerja serta mampu berproses untuk menemukan jati profesi yang betul-betul sesuai dengan bakat dan skill masing-masing, sehingga dalam berproses mampu menghasilkan sebuah kesuksesan. Dari berbagai pemaparan dari narasumber-narasumber sebelumnya tentu saja mampu memberikan masukan/feed back kepada Prodi IP bahwa berbagai hal yang sebaiknya perlu dilakukan sebagai bentuk pembekalan kepada para mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja dan harapannya bisa dimasukkan ke dalam kurukulim. Di akhir pemaparan beliau mengemukakan bahwa memang ketika harapan terpenuhi, maka sudah bias dikatakan sukses.
Setelah pemaparan singkat dari masing-masing narasumber, maka dilanjutkan dengan diskusi dengan para peserta. Berbagai pertanyaan pun mulai bermunculan dari pihak peserta, seperti seperti program pra-lulus, kiat-kiat dalam berwira usaha, PNS sebuah solusi kah? Dan lain sebagainya. Disela-sela diskusi acara diselingi dengan Penandatangana MoU, antara Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dihadiri langsung oleh kepala perpustakaan (M.Solihin Arianto, S.Ag., SIP., MLIS) dengan IKAIPI SUKA dalam hal ini oleh Ketua Umum (Supriyadi, SIP). Inti dari kerjasama tersebut adalah bagi alumni yang telah terdaftar (memiliki kartu anggota), maka berhak mendapatkan pelayanan serta memperoleh hak untuk memanfaatkan segala fasilitas di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagaimana anggota perpustakaan pada umumnya, kecuali peminjaman koleksi. Perjanjian tersebut berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang. Menurut kepala perpustakaan bahwa beliau sangat mengapresiasi kerjasama tersebut, karena hingga saat ini belum ada alumni dari prodi lain yang melakukan kerjasama dengan pihak perpustakaan selain IKAIPI SUKA ini, kemudian harapan beliau kedepan semoga kerjasama ini menjadi percontohan bagi ikatan keluarga prodi yang lain bias melakukan hal yang sama. Selanjutnya beliau juga berpesan bahwa kerjasama seprti ini sebaiknya diperluas, bukan hanya dalam lingkup sektoral kampus saja, tetapi idealnya bias keluar melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, seperti pemerintah, toko buku dan lain sebagainya. Setelah acara Penandatangana MoU tersebut, selanjutnya dirangkaikan dengan acara launching kartu anggota IKAIPI SUKA yang natinya dapat menjadi tanda bukti otentik yang bias digunakan saat berkunjung ke perpustakaan, sehingga pada saat acara tersebut, panitia menerima pendaftaran bagi alumni yang ingin membuat kartu tanda anggota.
     Setelah acara diskusi selesai, maka dilanjutkan dengan acara Penyerahan Cindera mata kepada para narasumber, cindera mata yang dipersembahakan kepada para narasumber merupakan sebuah kaligrafi karya dari Jogja Kaligrafi (M. Nursolikin), kemudian disusul penyerahan doorprize kepada para peserta yang telah ikut andil dalam diskusi, doorprize yang dipersembahkan kepada para peserta pun beragam, seperti jurnal FIHRIS dan buku The Keyword yang merupakan bentuk apresiasi dari Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu ada T-Shirt, Mug dan Pin ekslusif dari Librarian Traveller dan berbagai macam lainnya. Setelah semua prosesi acara selesai sekitar pukul 12.00 WIB, kemudian disusul dengan Photo bersama, lalu dilanjutkan dengan pembacaan do’a.
    Selanjutnya harapan atas terselenggaranya acara tersebut pada dasarnya untuk mempererat tali silaturrahmi, tercipta pola komunikasi yang baik dan persaudaraan yang kuat dan utuh antar sesama alumni, dengan prodi ilmu perpustakaan dan dengan mahasiswa, sehingga tercipta keluarga yang harmoni tanpa melihat latar belakang dan status yang selama ini menjadi momok. “Salam Pustakawan”.

Jumat, 05 April 2013

Cerpen


Buku Untuk Cinta
By : Muchizt

Designed by Muchizt
Seolah ada yang membisikkan sesuatu ke telingaku  saat kami berada dalam tempat itu, entah apa yang sebenarnya terjadi tapi itu sungguh terjadi..
“Kita pulang saja yuk”, bisikku pada mereka, tapi nampaknya kawanku masih tetap ngotot untuk menuntut haknya itu. Aku dan salah seorang kawanku pun memutuskan untuk turun ke lantai dasar untuk menunggu mereka, dengan berharap sedikit menenangkan diri sejenak sebari menunggu mereka turun.
Kami berdua sepakat untuk menunggu mereka di ruang tunggu dekat pintu masuk, karena masih ada beberapa kursi kosong disana, tak lupa ku kirimkan pesan singkat (SMS) tentang posisi kami disini. Sambil menunggu, aku biasanya membaca buku kesayanganku yang selalu ku bawa kemanapun aku pergi, memang tidak sebanding dengan kualitas buku best seller, tapi bagiku buku ini lebih dari sekedar buku dan aku lah pembaca setianya yang bukan sekedar pembaca,hehe
Ketika asyik membaca, tiba-tiba temanku menepuk bahuku dan memberi isyarat bahwa Hp ku sedang bergetar dalam tasku, karena memang tasku itu persis berada di sampingnya itu. Oh ternyata ada SMS yang masuk, lalu kubuka dan kubaca isi pesan tersebut, tapi sebelumnya kulihat siapa pengirimya terlebih dahulu. Sebuah nomor tak ku kenal, tapi orang ini nampaknya mengenalku, tuturku dalam hati. Dilihat dari kata-katanya orang ini sudah banyak mengenal diriku, hal ini dilihat dari caranya menyapa, bertuturkata, penggunaan tanda baca hingga penggunaan graphical smileys pada SMS tersebut. Tapi siapa orang ini, kataku..
“Hey, kamu ini kenapa kok kelihatan serius amat baca SMS, sampe alismu ikutan berkerut gitu”, tegur temanku.
“Oh, nggak tau nih Ben.., ada yang SMS tapi nomernya baru di Hp ku”, kataku pada temanku Benny. Lalu Ku rampas Hp si Benny yang diletakkan di atas meja dekat laptopnya itu, untuk mengecek siapa tahu Benny sudah punya nomor tersebut, tapi hasilnya nihil.
“Yaa biasa lah, kamu kan orang cukup berpengaruh di kampus ini, apalagi di jurusan kita dan itu pasti penggemar beratmu, hahaha”, Ledek si Benny.
“Ah.., biasa aja kalee,” tangkisku pula
“Pasti teman se-organisasimu, paling tidak ya.. nyariin kamu, atau mungkin lagi kangen atau pengen curhat atau pengen..”celoteh Benny nggak karuan.
Belum sempat kubalas ocehan si Benny yang gak mutu itu, temanku yang kutunggu-tunggu pun datang menghampiri kami dengan raut wajah yang kesal,sebel dan mendongkol. Ku coba memberanikan diri untuk bertanya terkait hal yang dialami mereka barusan, namun mereka malah mengajak kami untuk pergi meninggalkan perpustakaan. Aku dan Benny pun turut serta. Seperti biasa Benny selalu setia untuk memboncengku, saat dalam perjalanan keluar dari tempat parkiran, tiba-tiba Benny nge-rem mendadak, aku pun kaget bukan kepalang, lalu sesuatu yang tidak di inginkan pun terjadi, “Brakkk..., terrrrt... Bukkk..”aku pun terpelanting ke taman, jaket dan celanaku sobek, helmku pecah, lalu tas ikut terlempar dan isinya pun berceceran, sedang si Benny jatuh berpelukan dengan motor kesayanganya. Lalu aku dan Benny langsung pingsan dengan sukses di tempat itu...
   Saat siuman, kulihat sekelilingku.. ada banyak orang rupanya disini, mulai dari OB, Security, mahasiswa, hingga dosen kami dan juga selaku kepala perpustakaan, ternyata merekalah yang menolong kami saat aku dan Benny mengalami kecelakaan di depan perpustakaan kampus. Kulihat mereka yang menunggu di luar dengan wajah yang cemas dan penuh harap, kulihat tasku dan tas Benny di atas meja, aku pun lega lalu kupejamkan mataku kembali dan berusaha menenangkan diriku yang masih shock.
***
     Setelah melawati masa bedrest selama sepekan, kini aku sudah menampakkan diri di kampus, teman-teman datang memberikan ucapan selamat dan bersyukur aku sudah sembuh, lalu kucari si Benny untuk mengetahui keadaanya dan konon katanya dia sudah sembuh jua.
Saat ketemu dengan Benny, aku merasa senang dan haru. Lalu kami pun saling menceritakan keadaan kami pasca kecelakaan, yah..suatu hal yang membuat kami sadar bahwa yang namanya kecelakaan pasti ada saja hal yang tidak kami inginkan, contoh konkritnya properti kami banyak yang rusak, seperti motor, helm dan lainnya namun kami betul-betul merasa kehilangan, laptop Benny rusak berat, tapi laptop tersebut lagi diservis, untuk saat ini Benny  minta dispensasi ke dosen bahwa dalam waktu dekat ini dia belum bisa mengumpulkan tugasnya itu, karena file tugasnya ada dalam laptop tersebut lalu dosen pun memakluminya.
      Lain halnya dengan diriku, meski mengalami nasib yang hapir sama dengan Benny, namun ada suatu hal yang membuatku dihantui rasa bersalah..bersalah pada diriku, karena buku yang menjadi teman setiaku raib entah kemana, yang jelas hilangnya saat terjadi kecelakaan itu. Sempat terpikir olehku untuk mencari tahu orang yang bertabrakan dengan kami, namun ku urungkan niat itu, biar situasinya tenang dahulu baru memikirkan aksi selanjutnya, yang jelas bukan aksi pembalasan...
      Seperti biasanya, mau tidak mau memang perpustakaan itu merupakan satu-satunya tempat kami berlabuh, melabuhkan keluh kesah kami selaku mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan yang haus akan sejuta informasi dan disinilah (perpustakaan) arah kiblat kami. Masih terpatri dalam ingatanku akan kejadian yang menimpaku dengan Benny sepekan lalu dan masih terbayang pula buku kesayanganku yang hilang entah kemana, untuk mengobati rasa dukaku, kucoba mengingat-ingat kutipan dari buku itu yang terkait dengan keadaanku kini dan kuingat sepatah kata yang berbunyi “Memang pengalaman itu merupakan guru yang paling brutal, tapi kenyataanya kita pun masih terus belajar dan akhirnya benar-benar belajar dari pengalaman itu”.
    Tak terasa hari sudah siang, Benny mengajakku makan siang di warung paforitnya, maka kami pun beranjak pergi meninggalkan perpustakaan, meski aku merasa betah tinggal disana dengan berbagai pelayanan yang menyenangkan, namu sebagai teman yang baik, maka aku juga harus menghargai ajakan temanku ini, karena teman adalah hadiah yang kita berikan kepada diri kita sendiri. Di warung makan, aku biasanya ngerumpi gak karuan sama si Benny, arah pembicaraannya pun tak tahu tema dan endingnya seperti apa. Benny paling kondang kalau ngomongin masalah cewek, dia paling berpengalaman [katanya], tapi faktanya sampai sekarang dia masih jomlo-jomlo aja,hehe
    Selesai makan, kuantar Benny pulang ke kostnya karena motornya masih di opname di bengkel belakang kampus. Saat sampai di kost, Benny bertanya tentang buku milikku yang hilang itu.., lalu kujawab dengan nada pelan. ”Begini Ben...,kalau disuruh jujur aku lebih memilih kehilangan pacar daripada kehilangan sebuah buku”, jawabku singkat..
“Alasannya apa, kok cara pandangmu sedikit berbeda dengan orang-orang pada umumnya”, tanya Benny penasaran.
“Jawabanya cukup simple Ben.., Buku itu mengerti apa yang aku mau, sedang pacar belum tentu”, jawabku singkat.
“Tapi kamu masih mau pacaran lagi kan..?, tanya Benny serius
“Iya masih, tapi setelah buku tersebut ketemu baru aku akan pacaran lagi ”, ucapku seketika.
“Nah.., itu baru temanku yang gentle”, puji Benny.
“Aku pulang dulu ya Ben”, jawabku sambil mengambil tas lalu keluar dari kamar Benny..
“Okey mas Bro, hati-hati di jalan ya”, sapa Benny..
“Yup’s”..bisikku pelan.
   Setelah melewati beberapa minggu, nampaknya belum ada tanda-tanda buku milikku itu akan ditemukan kembali. Namun aku tetap berharap ada seseorang yang baik hati mengantarkannya kepadaku, tapi nampaknya itu mustahil. Sore yang cerah, mengantarkan hari-hariku bercanda ria dan sharing-knowledge lagi dengan rekan-rekan se-organisasi. Seperti biasa di taman kampus yang asri, sejuk dan rindang  menjadi tempat paforit mahasiswa untuk berdiskusi, sama halnya dengan kami mahasiswa yang bergelut dalam dunia perpustakaan. Berbagai macam topik yang kami bahas di dalam forum itu, mulai dari yang sifatnya pribadi, personal, akademik, seputar ilmu perpustakaan hingga hal-hal yang berkaitan dengan organisasi kami yakni organisasi kepustakawanan.
            Saat asyik ngobrol-ngobrol dengan teman-teman, Hp ku bergetar lagi ternyata ada SMS yang masuk, lalu ku buka dan kuliat siapa pengirimnya dan apa isinya. Ternyata dari pak. Kepala perpustakaan, isi SMS nya berbunyi “Mas, besok pagi datang ke perpustakaan ya, saya tunggu di ruangan saya, ada sesuatu hal yang saya ingin bicarakan dengan anda, terima kasih.”. kira-kira seperti itulah isinya.
      "Aduh, salah apa lagi yang ku perbuat", pikirku. Kemudian aku balas SMS  beliau untuk menyanggupi permintaanya itu.
  Kesokan harinya, saya berangkat ke perpustakaan. Dengan tenang, aku menuju ruangan kepala perpustakaan, nampaknya beliau sudah menunggu disana, setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kemudian beliau mengutarakan tujuan beliau memanggil aku.
“Begini Mas,. kemarin sore ada seorang yang membawa sesuatu ke perpustakaan, ” ucap pak. Kepala perpustakaan sambil mengeluarkan sebuah bungkusan yang  dibungkus dengan rapi layaknya sebuah kado, kemudian beliau berkata. “Disini tertuliskan nama dan alamat anda, oleh karena itu saya memanggil anda untuk datang kemari, silahkan diterima”, kata pak. Kepala perpustakaan sambil tersenyum.“Terima kasih banyak ya pak, atas bantuanya”, jawabku sambil bersalaman dan sekalian pamit meninggalkan ruangan beliau.
   Setelah meninggalkan perpustakaan, aku pun menuju ke fakultas untuk menunggu jam kuliah, setiba di kelas ku buka bungkusan  tersebut untuk memastikan apakah didalamnya berisi sesuatu yang kucari selama ini, dan ternyata benar buku yang kucintai kini telah kembali. Setelah memeriksa kondisinya, ternyata di dalam lembaran buku tersebut terselip selembar surat yang dilipat sangat rapi dengan kertas berwarna pink bermotif bunga.
  Setelah membaca, Ternyata si pengirim surat tersebut adalah mahasiswi yang menabrak kami beberapa minggu yang lalu, kemudian buku kesayanganku ikut terbawa bersama barang-barang mahasiswi tersebut. Di dalam surat itu juga  tertera nomor Hp dan orang baik hati itu juga mengajakku untuk ketemuan. Dia kah orang yang selama ini aku cari-cari dalam hidupku, tapi entahlah...